BINTANG PELAJAR DI PINGGIR JALAN

Cerpen Pikiran Rakyat, 1 Juli 2012 – oleh Didin D Basoeni

Bintang Pelajar di Pinggir Jalan

DRAWING, Iwan Ismael, Nona T #4, cut paper, screen print, acrilic, on canvas 140 x 120 cm 2009

SETELAH membersihkan debu kaca salah satu kendaraan di persimpangan jalan lalu menerima uang lima ratus rupiah, Akum terus berlari ke pinggir toko. Semula akum akan membersihkan kaca kendaraan lainnya. Tapi terasa badannya kedinginan, sebab tertiup angin malam musim kemarauan yang sangat dingin. Di pinggir toko, lalu Akum rnenghitung uang hasil belas kasihan dari membersihkan kaca kendaraan sejak pukul 14.00 WIB siang sampai 20.00 WIB.

“Alhamdulillah…dapat tiga ribu lima ratus rupiah…,” Akum bergumam sambil memasukkan uang yang sudah dekil karena jarang dicuci.

“Seribu rupiah buat ibuku sisanya untuk keperluan sekolah,” kata Akum sambil berdiri. Tetapi ketika mau pergi, datang seorang anak lelaki seusia Akum yang juga mencari belas kasihan dari penumpang kendaraan di pinggir jalan dengan cara bernyanyi pake alat musik kaleng bekas tutup botol minuman yang dipaku ke papan pendek yang dipegang tangannya.

“Kamu dapat uang berapa Sid?” Tanya Akum kepada Wasid yang baru datang menemuinya.

“Lumayan dapat empat ribu rupiah… Kum. Tapi pendapatan hari ini tidak akan diberikan sebagian pendapatannya kepada Akum. Ketika dua anak lelaki itu sedang mengobrol, datang lagi seorang anak wanita seusia Akum dan Wasid ikut kumpul dengan wajah berseri-seri.

“Kum, Sid, Nyai memperoleh hadiah..!”

“Hadiah.., apa, Nyai?“ kata Akum dan Wasid berbarengan kepada Nyai yang jari tangannya meremas sesuatu erat sekali.

“Lihat di tangan Nyai ada tiga lembar uang lima ribu.”

“Hadiah… dari siapa… Nyai?“ Tanya Akum dan Wasid.

“Mula-mulanya seperti biasa… Nyai bernyanyi di pinggir jendela salah satu kendaraan diiringi kaleng bekas tutup botol minuman. Nahhh… beres Nyai bernyanyi, seorang wanita tua yang kepalanya berjilbab, dari dalam kendaraan bertanya kepada Nyai, tentang kehidupan sehari-hari dari orangtua Nyai. Karena pertanyaan serius dari wanita berjilbab tersebut kemudian oleh Nyai di terangkan bahwa Nyai masih sekolah tingkat SD. Hasil dari bernyanyi di pinggir jalan untuk membantu ibu dan keperluan sekolah Nyai, seperti membeli buku dan lain-lain. Karena ditanya, Nyai pun menjelaskan bahwa Nyai sudah tidak mempunyai ayah, sebab Bapak meninggal ketika bekerja di salah satu perusahaan bangunan tertimpa besi beton. Nahhh… selesai Nyai bercerita; wanita tua berjilbab dari dalam kendaraan mengusap kepala Nyai sambil memberi lembaran uang. Ternyata uang tersebut tiga lembar, lima ribuaan….”

Menceritakan ayah yang meninggal suara Nyai mendadak terharu. Karena Nyai ingat kepada almarhum ayahnya.

Akum dan Wasid merasakan pula bila ada yang menceritakan soal ayah suka sedih. Sebab menurut Akum dan Wasid bila ayah mereka masih hidup, belum tentu harus mencari naskah dl pinggir jalan seperti sekarang. Akum dan Wasid sama seperti Nyai adalah anak yatim.

**

SEKALIPUN rumah ketiga anak yatim tersebut tidak satu kampung; tetapi karena tiap hari bertemu, dan mempunyai cita-cita yang sama yaitu ingin tamat sekolah tingkat SD. Akum, Wasid, dan Nyai tampak seperti saudara sekeluarga; satu sama lain saling sayang menyayangi. Mereka bertiga tiap hari harus mencari nafkah di pinggir jalan, untuk biaya sekolah dan membantu ibunya untuk keperluan hidup mereka sehari-hari.. makan dan minum. Selesai mencari nafkah, sebelum pulang ke rumah masing-masing, Akum, Wasid, dan Nyai, suka berkumpul di salah satu toko, di bawah lampu jalan dekat pohon mahoni. Obrolan mereka bertiga pasti menceritakan pendapatan hasil bekerja membersihkan kaca kendaran dan bernyanyi.

“Sebab Nyai dapat hadiah lima belas ribu…. Akum dan Wasid akan ditraktir roti bakar, supaya tidak kedinginan sebelum pulang ke rumah,” kata Nyai.

Setelah membeli roti bakar mereka masuk ke pos kamling yang masih belum datang petugasnya. Mereka lahap sekali memakan roti bakar panas dengan cuaca malam yang dingin. Malam itu tanggal empat belas. Sebelah timur, sudah muncul bulan purnama yang cahayanya memancar, menerangi pepohonan, atap rumah penduduk, berbagai kendaran yang lalu lalang dijalan raya. Juga menerangi anak yatim Akum, Wasid, dan Nyai.

Cahaya bulan purnama yang menerangi kepala anak yatim; terasa oleh mereka seperti elusan tangan seorang ayah yang sayang terhadap anak-anaknya. Elusan sayang dari seorang ayah, sudah lama sekali tidak dirasakan oleh ketiga anak yatim itu. Hati mereka suka terharu, bila melihat tayangan di televisi, ada seorang anak tiduran di pangkuan orangtuanya sambil dielus kepalanya, yang berlangsung di runah orang kaya. Hati Akum, Wasid dan Nyai serta anak di seluruh dunia; tentu mempunyai keinginan yang sama yaitu mempunyai orangtua yang penuh kasih sayang terhadap anak-anaknya. Bila anak orang kaya ingin sekolah dari tingkat SD sampai perguruan tinggi, tentu akan dibiayai orangtuanya; apalagi anaknya pintar dan berkelakuan baik. Namun begitulah kehidupan; ada orang kaya dan ada orang miskin. Kehidupan umat manusia sudah ada yang mengatur yaitu Tuhan yang Mahakuasa, seperti yang dialami oleh ketga anak yatim itu. Mereka sebenarnya tidak ingin tiap hari setelah pulang sekolah harus mencari belas kasihan di pinggir jalan untuk mendapatkan uang. Tapi mereka sadar, orangtuanya yang tinggal ibunya bukan orang kaya.

**

SINAR bulan purnama tanggal 14 malam itu, semakin memancar menerangi alam raya. Tiga anak yatim menatap bulan purnama dan tidak ada satu orang pun yang bicara. Tetapi ketika ada seorang wanita tua lewat yang di dekat pos kamling; Wasid berkata pelan-pelan.

“Bapa dulu pernah bercerita kepadaku, katanya di bulan itu ada Nini Anteh,” ucap Wasid.

“Bapaku juga pernah cerita tentang Nini Anteh di bulan,” kata Akum.

“Nyai pun pernah mendengar dari ibuku, Nini Anteh di bulan itu kerjanya menenun kain,” Kata Nyai menyambung cerita Wasid dan Akum.

‘Nahhh.. coba ceritakan oleh Nyai, Nini Anteh di bulan..” kata Akum dan Wasid. Sebab waktu bapaknya cerita Nini Anteh. Akum dan Wasid masih anak-anak belum sekolah sehingga lupa lagi cerita Nini Anteh di bulan itu.

“Nyai mendengar cerita Nini Anteh di bulan. Kan sudah sekolah, jadi sekarang tentu masih ingat ya? kata Akum dan Wasid.

“Cerita Nini Anteh, menurut ibuku: karena bila bulan purnama tanggal 14 seperti sekarang, ibu dan teman-temannya di kampung baik anak perempuan maupun laki-laki, suka ‘mulan’ bermain di halaman rumah. Halaman rumah sudah bersih, karena dibersihkan sejak siang hari.

Di bawah sinar purnama, berbagai permainan dilakukan. Yaitu bermain galah, ucing-ucingan, emprak, congkak, dll…. Bila bermain sudah lelah, kemudian duduk berkumpul sambil bernyanyi.

“Nyanyiannya bagaimana Nyai?” Tanya Akum dan Wasid.

“Kalau tidak salah begini tapi nyanyiannya dalam bahasa Sunda. Hayu batur urang mulang. Da ayeuna caang bulan. Tuh di ditu diburuan. Nu lening meunang nyapuan.”

Selesai bernyanyi. Semua anak-anak berteriak-teriak, “Nini Anteh menta baju anyar” (Nini Anteh minta baju baru). Hal karena katanya Nini Anteh di bulan membuat kain.

“Nahh… begitulah ceritanya,” ucap Nyai sambil tersenyum. Akum dan Wasid pun ikut tersenyum. Karena mereka tidak percaya di bulan ada Nini Anteh menenun kain.

“Tapi kata ibuku, bila anak-anak sudah ‘mulan’ di bulan purnama lain minta baju baru, beberapa hari kemudian suka memperoleh baju baru,” ucap Nyai.

“Baju baru bukan dari Nini Anteh, tapi dari orangtuanya mereka tersindir. Pada malam hari anak-anak berteriak-teriak minta baju baru ya?” kata Akum.

“Sekarang biarpun ada bulan purnama, jarang anak-anak yang “mulan”; dan tidak ada anak-anak yang minta baju baru kepada Nini Anteh. Sebab zaman sekarang baju baru banyak di toko-toko, selain sudah banyak pabrik tekstil pakai mesin ya?” kata Wasid.

“Zaman sekarang yang sulit diperoleh duit. Tapi sulit itu untuk anak-anak seperti kita. Bagi anak-anak yang orangtuanya kaya, jangankan minta uang untuk beli baju baru, untuk beli sepeda, motor juga banyak yang diberi,” kata Akum.

“Sekarang kita bertiga. Kepada Nini Anteh, minta duit saja, jangan minta baju baru ya?” kata Nyai.

Seperti ada yang rnemberi perintah, tiga anak yatim Akum, Wasid, dan Nyai yang berada di pos kamling, secara bersama-sama berteriak sambil menatap bulan purnama.

“Nini Anteh, Nini Anteh, minta uang untuk keperluan sekolah untuk beli buku, tas sekolah, sepatu!”

Teriakan tiga anak yatim tersebut seperti suara ajaib yang keluar dari pengeras suara. Mengalahkan suara lainnya pada malam itu. Angin malam yang berhembus meniup daun-daun pepohonan berhenti. Tiba-tiba dari angkasa ada cahaya memancar ke pos kamling, lalu muncul seorang wanita tua.

“Selamat malam cucuku. Nenek sangat bahagia sekali punya cucu seperti Akum, Wasid, dan Nyai; yang mau bersusah payah mencari rezeki yang halal untuk menuntut ilmu. Nini berdoa, semoga kalian bertiga berhasil mencapai cita-cita dan selamat di dunia maupun di akhirat… maafkan nenek tidak bisa memberikan uang yang kalian minta. Sebab nenek di Bulan tidak mencetak uang….. sekarang sudah malam, pulanglah segera ke rumah masing-masing sebab ibumu sudah menunggu kalian di rumah.

***

SEBULAN kemudian. Akum, Wasid, dan Nyai di sekolahnya mendapat beasiswa dari pemerintah. Sebab tiga anak yatim tersebut di sekolahnya masing-masing bisa meraih bintang pelajar teladan. Selain mendapat predikat murid terpandai dalam belajar di sekolahnya Akum, Wasid, dan Nyai juga pandai di bidang Iainnya serta berkelakuan baik. Terhadap orangtua, guru di sekolah maupun kepada teman-temannya serta masyarakat lainnya.***

Bale’endah, 26 Oktober 2011

Iklan

Tentang Cerpen Koran Minggu

Cerpen ibarat makanan ringan, dapat kita nikmati kapan pun dan dimana pun, tanpa harus meluangkan banyak waktu.
Pos ini dipublikasikan di Pikiran Rakyat dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s